JOURNAL 2
Jurnal
Komunikasi Pembangunan
ISSN 1693-3699
Februari 2010, Vol. 08, No. 1
Peran
Komunikasi dalam Modernisasi Pertanian Berbasis Koperasi
P. A.Rangkutia)
a)Staf Pengajar
Institut Pertanian Bogor
Abstrak
Modern
agricultural development is largely determined by the acceleration of
productivity improvement, quality and value-added production to agribusiness
and agro-industry approach. Since the development of the green revolution, agricultural
technology and agricultural business management in the country has developed
rapidly, especially in increasing the production of various food commodities
through the development program planned by the government. To encourage
increased capacity of farmers towards the realization of a more modern agriculture
the government to provide top down approach guidance through the extension
program and the spread of agricultural extension field workers (PPL). The
process of technological innovation and adoption of agricultural business
management has occurred through the Village Unit Cooperatives (KUD), but it has
an impact on the dependence of farmers to the government and adoption of
technological innovation has decreased (stagnant). Independence and
competitiveness of farmers through KUD has decreased, consequently increasing
agricultural productivity also hampered and economic conditions of farmers
highly dependent on government aid with very weak competitiveness. Entering the
era of globalization with a very dynamic communication technologies development
require a sustainable modern agriculture development model with agribusiness
and agro-industry approach to farmer competitiveness based on strengthening
farmer agricultural cooperative. Performance and capacity of agricultural
cooperatives will be enhanced if there is a KUD arrangement and able to take
advantage of the available information optimally. To build an independent and
competitive agricultural cooperative, need to develop a specific leading
commodity programs in its working areas as agribusiness development area (KPA)
as the concept of OTOP (One Tambon One Product) which has been implemented in
Thailand and Japan. The role of cooperative organizations communications with
two-way communication model (convergence) can support the synergy of
cooperation with other economic actors towards the realization of a more modern
agriculture.
I. Pendahuluan
Menurut
Adjid (2001), pembangunan pertanian modern adalah suatu rangkaian panjang dari
perubahan atau peningkatan kapasitas, kualitas, profesionalitas dan produktivitas
tenaga kerja pertanian, disertai dengan penataan dan pengembangan lingkungan fisik
dan sosialnya, sebagai manifestasi dari akumulasi dan aplikasi kemajuan
teknologi dan kekayaan material serta organisasi dan manajemen. Mosher (1985) mengemukakan
bahwa ada sepuluh factor penentu dalam modernisasi pertanian yang meliputi lima
syarat pokok dan lima syarat pelancar. Kelima syarat pokok tersebut meliputi:
(1) adanya pasar untuk hasil-hasil usaha tani, (2) teknologi yang senantiasa
berkembang, (3) tersedianya bahan-bahan dan alatalat produksi secara lokal, (3)
adanya perangsang produksi bagi petani, dan (5) tersedianya pengangkutan yang
lancer dan kontinyu. Adapun syarat pelancar pembangunan pertanian meliputi: (1)
pendidikan pembangunan, (2) kredit produksi, (3) kegiatan gotong royong petani,
(4) perbaikan dan perluasan tanah pertanian, dan (5) perencanaan nasional
pembangunan pertanian. Pembangunan pertanian modern merupakan langkah strategis
mewujudkan pembangunan pertanian berkelanjutan sebagai paradigma baru, sehingga
dapat meningkatkan daya beli masyarakat perdesaan yang akan menjadi pendorong
pertumbuhan sector nonpertanian.
Sejak
dikembangkannya gerakan revolusi hijau, pemanfaatan berbagai teknologi
seperti teknologi kimia dan teknologi alat dan mesin pertanian (alsintan) telah
terjadi peningkatan produktivitas pertanian yang sangat pesat. Namun di sisi
lain terjadi kerusakan lingkungan hidup dan tatanan kehidupan sosial di
pedesaan. Proses adopsi inovasi teknologi di lingkungan petani telah terjadi
berkat dukungan system komunikasi pem-bangunan yang dikembangkan oleh
pemerintah. Oleh karena pendekatan pembangunan pertanian pada waktu itu sangat memperhatikan
persuasi dan propaganda, maka pemerintah mengacu kepada model komunikasi linier
(satu arah) dan berbentuk vertikal dari atas ke bawah (top down). Sejak
pasca swasembada pangan tahun 1984 terjadi kecenderungan melambatnya adopsi inovasi
teknologi pertanian dalam peningkatan produksi, seperti terlihat dari gejala
stagnasi atau pelandaian produktivitas berbagai produksi komoditas pertanian
dan pendapatan serta kesejahteraan petani di pedesaan. Terdapat beberapa faktor
yang mempengaruhi adopsi inovasi teknologi antara lain: (1) teknis
teknologinya, (2) karateristik sasaran, (3) lingkungan dan (4) sumber informasi
(Sahardi, 2005).
Menurut
Jahi (1988) bahwa setelah model komunikasi linier satu arah dianggap kurang
sempurna, kini pandangan orang mulai mengarah pada komunikasi interaktif dua
arah di antara partisipan. Modernisasi pertanian di masa depan sangat
tergantung kepada manfaat optimal dari teknologi yang diperoleh oleh petani dan
tidak merusak lingkungan. Teknologi pertanian harus mampu menyesuaikan diri
dengan perkembangan global yakni berdaya saing dan ramah lingkungan. Akses petani
dalam memperoleh informasi dari berbagai sumber telah terbuka luas sehingga
dalam waktu singkat akan menjadi bagian dari masyarakat informasi untuk memanfaatkannya
bagi percepatan moderniasi pertanian. Paradigma pembangunan saat ini mengalami
pergeseran, di mana pembangunan menekankan pada pemberdayaan (empowerment)
yang dikenal dengan pembangunan manusia (people centered development), pembangunan
berbasis sumberdaya lokal (resource based development), dan
pembangunan kelembagaan (institutional development).
Dalam
hal ini peran komunikasi pembangunan dua arah (convergen) di pedesaan
menjadi penting agar petani dapat memperoleh informasi dan menentukan teknologi
pertanian yang tepat untuk digunakan petani dan manajemen usaha tani yang
semakin maju. Sistem agribisnis dan agroindustri merupakan pendekatan
pengembangan usaha tani modern dengan memperhatikan aspek lingkungan hidup, nilai
tambah dan daya saing petani. Berkaitan dengan program otonomi daerah yang
sedang dikembangkan oleh pemerintah Indonesia, komunikasi pembangunan pertanian
untuk percepatan kemandirian petani dan peningkatan daya saing menuju pertanian
berkelanjutan yang modern, merupakan alternatif kebijakan yang perlu
dipertimbangkan oleh pemerintah daerah. Pemahaman keberagaman sumber daya alam
dan sumber daya manusia dengan karakteristiknya yang khas pada setiap daerah
menjadi landasan pokok untuk membangun pertanian modern di masa depan. Proses adopsi
inovasi teknologi dan jaringan komunikasi petani yang ditemukan di daerah
melalui perkuatan koperasi efektivitas komunikasi pembangunan.
Pembangunan
pertanian modern secara efisien dan efektif dengan pendekatan agribisnis dan
kelestarian lingkungan hidup berbasis pada prinsipprinsip ekonomi kerakyatan
merupakan alternatif pilihan untuk percepatan kesejahteraan petani. Penataan
dan pengembangan model Koperasi Unit Desa (KUD) sebagai salah satu pilar kekuatan
ekonomi masyarakat perlu didorong agar dapat melakukan kerjasama sinergi dengan
pilar kakuatan lainnya yakni Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik
Swasta (BUMS). Soekartawi (2005) menyatakan bahwa untuk mendorong percepatan
modernisasi pertanian yang berkelanjutan dengan penerapan teknologi tepat guna
dan mendorong meningkatnya daya saing dan kesejahteraan petani diperlukan dukungan
komunikasi pembangunan pertanian yang efektip. Komunikasi pertanian mengandung
beberapa aspek penting berkaitan dengan proses pengambilan keputusan antara
lain: motivasi dalam pemecahan masalah, bagaimana menyelesaikan tiap masalah untuk
mencapai tujuan, apakah ada kesempatan untuk mencapai tujuan itu, dimana dan
kapan waktu yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut dan perubahan situasi
lingkungan.
2.
Permasalahan
Permasalahan
yang dihadapi di lapangan adalah bagaimana pola komunikasi yang efektif agar
proses komunikasi dalam pemanfaatan informasi yang tersedia dapat secara
optimal mendorong percepatan modernisasi pertanian berbasis koperasi kerjasama dengan
pelaku ekonomi lainnya di pedesaan dapat berlangsung efektip.
Nama : Idham Fiqi
NPM : 23211460 / 2EB09
Tahun : 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar